Hukrim  

Witak dan Sunur Tipu Pengusaha Rp 135 Juta – Janjikan Proyek Rp 7 M

Mantan Asisten II Sekda Lembata, Lukas Witak

Kupang, suara-flobamora.com – Lukas Witak dan Eliaser Yentji Sunur diduga melakukan penipuan terhadap  pengusaha Hui Nait sebesar Rp 135 Juta dengan janji akan memberikan proyek senilai Rp 7 milyar.

Hui Nait (pengusaha yang ditipu, red) dikonfirmasi media ini, Minggu (18/12/16) berkaitan dengan selentingan yang diunggah di Face Book alias Media Sosial (Medsos) tentang dugaan keterlibatan Lukas Witak saat masih menjabat sebagai Asisten II Sekda Kabupaten Lembata pada tahun 2012.

“Saat itu, saya diminta ke ruang kerja Bupati Yentji Sunur. Alasan yang digunakan, akan ada kegiatan olahraga Tinju yang dipromotori Wilem Blojo dan malam hiburan karena itu dibutuhkan sejumlah dana segar. Kebetulan saat itu saya punya uang sebanyak Rp 135 juta rupiah. Karena informasi yang sampai ke telinga saya, sifatnya segera, maka saya pun bergegas ke ruang kerja Bupati Yentji sambil menenteng uang senilai Rp 135 juta dalam kantong plastik kresek berwarna hitam,” ungkap Hui Nait.

Mantan Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur.
Mantan Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur.

Menurut Hui Nait, kejadian tersebut bermula ketika dirinya diajak Tomy Sili Malar bertemu Lukas Witak untuk membicarakan kebutuhan dana untuk kegiatan tersebut.

“Saat bertemu Bupati Yentji Sunur, saya justru ditemani Tomy Sili Malar dan Lukas Witak Asisten II kala itu. Kita bertiga sama sama masuk ke ruang kerja Bupati Yentji Sunur. Jam pertemuannya kira kira jam 1.30 Wita” jelasnya.

Setelah basa basi seadanya, lanjut Hui, pembicaraanpun terfokus pada permintaan sejumlah uang. “Ketika ditanya Bupati Yentji soal besaran uang yang dibutuhkan, saya lalu menjawab kalau uang yang dimintakan sudah saya bawa. Hanya sebesar Rp 135 juta rupiah. Dan uang yang ada dalam kantong plastik kresek berwarna hitam tersebut saya serahkan kepada Bupati Yentji Sunur,” terangnya.

Saat uang tersebut diserahkan kepada Bupati Yentji Sunur, kata Hui, suasana ruang kerja sekejap menjadi hening.  “Bupati Yentji lalu mengambil uang sebesar Rp 10 juta rupiah dan diserahkan kepada Lukas Witak,” ujar Hui.

Menurut Hui, mulanya Lukas Witak malu-malu dan menolak uang tersebut. Tapi kemudian diyakinkan Bupati Yentji. “Uang ini untuk pak Lukas. Pak Lukas pakai saja. Lukas Witak pun kemudian berdiri dan mampir ke meja kerja Bupati Yentji dan menerima uang sebesar Rp 10 juta rupiah tersebut. Begitu!” bebernya.

Sesudah mengambil uang tersebut, kata Hui Nait, Lukas Witakpun kemudian minta diri dan meninggalkan ruang kerja Bupati Yentji Sunur. “Sebelum meninggalkan ruangan, Bupati Yentji Sunur berpesan kepada Lukas Witak, ‘Ingat itu’ (proyek Rp 7 milyar yang dijanjikan kepada Hui Nait, red). Dan Lukas Witak menjawab ‘baik Bapak Bupati’. Begitulah faktanya,” ujar Hui.

Hui Nait membantah adanya selentingan bahwa uang tersebu telah dikembalikan Lukas Witak kepada dirinya. Begitu juga proyek Rp 7 milyar yang dijanjikan Yentji Sunur dan Lukas Witak tak kunjung diberikan.

”Tidak benar kalau uang itu sudah dikembalikan. Itu bohong. Saya tidak mungkin tipu bos. Saya siap beber semuanya. Kapan dan dimana saja. Demi Lewotana, saya juga siap disumpah,” tantangnya. (sf/ft/oni/brt/ian)