Satgas Anti Korupsi Golkar Minta Kejati NTT Usut Pembangunan Jembatan ‘Miring’ Raterunu 1

  • Bagikan

Mbay, Suara Flobamora.Com – Satuan Tugas (Satgas) Anti Korupsi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar NTT, meminta Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT, Hutama Wisnu untuk mengusut pembangunan Jembatan ‘Miring’ Raturunu 1 yang membentang di Jalan Provinsi (Jalur Pantai Utara Flores, red), Ruas Aeramo-Kaburea, Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo.

Permintaan itu disampaikan Ketua Satgas Anti Korupsi DPD I Partai Golkar NTT, Kasimirus Bara Bheri, SH pada Selasa (6/12/22) ketika dimintai tanggapannya terkait kondisi Jembatan Raterunu 1 yang amblas, patah dan bolong, hanya setahun setelah dibangun.

“Saya minta Kajati NTT, Hutama Wisnu memerintahkan tim penyidik Kejati NTT untuk segera memeriksa kondisi Jembatan ‘Miring’ Raterunu 1 dan memproses hukum kontraktor pelaksananya, CV. Anugerah Cipta Jaya (ACJ) karena membangun jembatan tersebut tidak sesuai Spek (Spesifikasi Teknis) dan Bestek (syarat/ketentuan bangunan),” tandas Kasimirus.

Menurut Kasimirus, CV. Anugerah Cipta Jaya (anak perusahaan PT. Bina Citra Teknik Cahaya/BTC) sebagai kontraktor pelaksana pembangunan jembatan Raterunu 1 membangun jembatan tersebut tidak sesuai Spek dan Bestek. “Saya sudah lihat sendiri kondisi jembatan itu. Itu kegagalan struktur jembatan karena tidak sesuai Bestek. Galian pondasi jembatan dangkal sehingga terkikis air, amblas dan patah,” ungkap Kasimirus.

Baca Juga :  Kejati NTT Diminta Tangkap Kepala Daerah Lain Yang Terlibat Kasus Tanah Labuan Bajo

Bahan bangunan yang digunakan, lanjutnya, juga tidak sesuai Spek (Spesifikasi Teknis, red). “Karena diameter besi dan jenis besi yang digunakan tidak sesuai. “Besi yang digunakan kontraktor adalah besi ulir 14 dan besi 12 banci. Padahal seharusnya, seluruh besi yang digunakan adalah besi 16 ulir,” beber Kasimirus sambil menyamankan posisi duduknya.

Selain itu, paparnya, kontraktor tidak menggunakan batu pecah (agregat, red). “Diduga kontraktor malah menggunakan pasir dan kerikil bulat yang diambil dari kali tersebut. Itu bisa dilihat dengan sangat jelas dari kondisi bentangan jembatan yang sudah tergerus air. Juga bongkahan beton bentangan jembatan yang rapuh pada 2 lubang menganga di jembatan itu,” ungkap Ketua Satgas, Kasimirus sambil mengelengkan kepalanya.

Kasimirus mengaku sangat heran ketika mendapatkan bongkahan beton dari bentangan jembatan yang hancur di ujung jari tangannya. “Masa beton kok bisa hancur ketika dicungkil dengan ujung jari tangan. Beton macam apa itu?” ujarnya sambil tersenyum sinis.

Kalau seperti itu, lanjut Kasimirus, bagaimana bisa menahan beban kendaraan yang melintas. “Padahal jalur Pantura Flores ini sering sekali dilewati truck-truck expedisi bertonase besar. Jangan sampai jembatan ini ambruk ketika dilewati kendaraan. Ini sangat membayakan pengguna jalan,” jelasnya sambil memperbaiki posisi kacamatanya.

Baca Juga :  Direktur PT. AGG Bukan Frengki Ratugaga

Galian bronjong, kata Kasimirus, juga dangkal sehingga mudah dikikis banjir. “Selain batu bronjong yang digunakan kecil, galian bronjongnya juga dangkal. Apalagi di lokasi itu struktur tanahnya berpasir jadi sangat mudah terkikis air,” tuturnya.

Ia pun mendesak Dinas PUPR NTT untuk sesegera mungkin mengirim Tim Teknis untuk memeriksa dan menilai jembatan tersebut. “Kita tidak ingin masyarakat menjadi korban. Kalau jembatan tersebut memang tidak layak digunakan/dilalui kendaraan, bisa segera diambil langkah antisipasi dengan membangun jembatan darurat. Apalagi ini sudah masuk musim hujan,” tandasnya.

  • Bagikan