Ini Bukti HTI Masih Kuat di NTT

Kupang, Suara Flobamora.Com— Masih aktifnya organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di NTT, membuktikan ormas yang sudah dilarang negara ini masih kuat dalam mengembangkan ajarannya.

Kasus yang terjadi pada 28 Mei 2020 di Kota Kupang, dimana pentolan HTI, Suryadi Koda meminta bantuan loper koran yang mangkal di depan kantor gubernur untuk selipkan Buletin Dakwah Kaffah di koran lain merupakan sebuah tindakan yang mencoreng pemerintah dan aparat penegak hukum.

Apalagi berita utama buletin dimaksud yang ditulis Suryadi Koda berjudul “Menolak Sistem Demokrasi dan Menerapkan Sistem Khilafah Sebagai Solusi dari Segala Sesuatu.” Bahkan mereka melakukan siaran langsung video rapat virtual di depan Kantor Gubermur NTT.

“Aksi bebas Suryadi Koda menunjukkan HTI masih ada di Kota Kupang,” kata Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor NTT, Ajhar Jowe sampaikan di Kupang, Jumat (5/6).

Ajhar berargumen, semestinya sejak negara mengumumkan bahwa HTI merupakan organisasi terlarang, sejak saat itu tidak boleh lagi melakukan berbagai aktivitas atas nama HTI. Namun sejumlah pentolan organisasi itu, tetap menjalankan aktivitas di bawah panji HTI.

Memang beberapa kali kegiatan mereka di Kota Kupang selama tahun 2019 selalu digagalkan GP Ansor NTT, tapi mereka terus berupaya dan semakin berani tampil di depan publik.

Ia menyatakan, tak perlu persalahkan pentolan HTI itu dalam berbagai aktivitas yang dilakukan. Karena hal tersebut membuktikan semua pihak lemah mengawasi kehadiran HTI di NTT.

Mereka hanya sekelompok kecil tapi mereka mampu menggerakan berbagai aktivitas sampai menyebarkan melalui media penyebaran seperti mencetak buletin dan melakukan video bebas.

Dengan demikian mereka beranggapan bahwa sudah ada kekuatan basis dan gerakan di NTT khusunya di Kota kupang.

“Kalau mereka belum punya basis, pasti mereka diam dan tidak mau muncul di publik. Hanya mereka yang sudah memiliki kekuatan atau basis yang berani menunjukan diri mereka dengan cara apapun,” tegas Ajhar.

Ia menyatakan, walau Suryadi Koda telah diamankan Polisi, diyakini pentolan HTI itu sudah ada penggantinya. Selama ini proses kaderisasi tetap berjalan. Karena masyarakat tidak boleh berasumsi bahwa dengan ditangkapnya Suryadi Koda, aktivitas HTI di Kota Kupang telah berakhir.

“Penahanan Suryadi Koda bukan menyelesaiakan HTI di NTT dan bukan ending melemahkan sistim gerakan mereka. Pergerakan mereka yang begitu masif perlu diantisipasi secara baik oleh pihak-pihak yang berkompoten dan badan intelijen daerah,” tandas Ajhar.

Agama Jadi Sorotan

Ia menyampaikan, sungguh sangat disayangkan, akibat gerakan HTI yang terus menunjukan sikap di NTT, di berbagai medsos membuli Agama Islam dengan berbagai komentar yang tidak sehat. Bahkan berbagai ancaman terus beredar di semua kalangan.

Dari berbagai komentar di medsos menunjukkan sikap rasa tidak suka dengan agama sangat terlihat. Orang berasumsi HTI sama dengan Islam. Padahal pemerintah telah menetapkan HTI merupakan sebuah organasi terlarang.

“Pemuda Ansor sejauh inipun terus memantau gerakan mereka, tetapi kewenangan kita terbatas. Sehingga hanya memberikan rekomendasi kepada pihak penegak hukum,” terang Ajhar.//sf (**/tim)