Budidaya Udang Supraintensif

Tambak Udang.

Filosofi budidaya

Mengintensifkan 5 subsistem budidaya secara utuh dan konsisten, yaitu (1) menggunakan benih yang bermutu, (2) pengendalian penyakit lingkungan, (3) standarisasi input produksi lainnya, (4) menggunakan teknologi budidaya yang sesuai, dan (5) manajemen usaha berorientasi efisiensi. Ke lima subsistem budidaya ini disebut dengan supra, sehingga Supraintensif adalah melaksanakan ke lima subsistem tersebut secara intensif.

Spesifikasi

Luas tambak 800 m2 (2 petak), kedalaman air 3 meter, konstruksi semen beton, menggunakan pompa air, kincir, dan blower serta aplikasi Central Draind Model Matahari. Rancangan Central Draind ini mampu memisahkan limbah organic berupa kotoran udang, sisa pakan dan bahan organic lainnya dari media budidaya dan dapat dibuang secara mekanis setiap 3-6 jam.

Dengan demikian lingkungan internal tetap terjaga dan udang dapat hidup nyaman meskipun dalam kondisi yang berdesakan karena kepadatan tinggi.

Manajemen

Budidaya udang supraintensif 1 (satu) siklus selama 90 hari (Dalam tahun dapat dilakukan 3 siklus). Padat tebar benur udang = 1000 ekor/m2, sehingga luasan 2 petak tambak (masing-masing 20 m x 20 m) membutuhkan benur udang sebanyak 800.000 ekor/siklus budidaya. Pakan yang dibutuhkan untuk 1 siklus budidaya adalah sebanyak 15 ton, dengan feeding program sesusai ketentuan. Panen dengan pola Parsial Harvest, dimana panen pertama adalah untuk penjarangan tahap I pada DOC 60, size mencapai 100 ekor/kg sebanyak 30% atau 2.000 kg.

Panen tahap II pada DOC 70, size mencapai 75 ekor/kg sebanyak 40% atau 4.000 kg. Panen total pada DOC 90, size mencapai 50 ekor/kg sebanyak 4.000 kg. Dengan demikian maka secara agregat, budidaya udang supraintensif atau siklus dapat mencapai produksi 10 ton, dimana capaian asumsi FCR = 1,3.

Potensi dan Peluang Usaha Investasi Sektor Kelautan dan Perikanan NTT

Potensi lestasi perikanan tangkap di perairan NTT sebesar 491.700 ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan 393.360 ton/tahun. Perkembangan produksi perikanan tangkap NTT memberikan kontribusi terbesar dari segi jumlah produksi dengan nilai produksi hampir mencapai 97 % dari total produksi perikanan.

Hasil produksi perikanan tangkap tahun 2013 sebesar 103 ton dan mengalami kenaikan pada tahun 2014 menjadi 108.083 ton.

  1. Ikan Laut

Potensi budidaya ikan laut di perairan NTT sesuai panjang garis pantai 5.700 km, diperkirakan memperoleh luas potensi budidaya sebesar 5.150 Ha (5 % dari panjang garis pantai), yang berada di wilayah Kabupaten Sumba Barat, Sumba Timur, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flotim, Lembata, Alor, Kupang, Rote Ndao, Sabu dan Belu.

  1. Rumput Laut

Luas areal budidaya rumput laut NT kurang lebih 51.870 Ha dengan total produksi hingga tahun 2014 mencapai 1.967.844,69 ton basah.

  1. Budidaya kerang juga merupakan salah satu usaha yang dikembangkan oleh masyarakat NTT terutama kerang mutiara, batu lola, japing-japing dan mata tujuh (abalone) yang merupakan komoditas berpotensi pasar baik. Mutiara sebagai induk alam budidaya terdapat di perairan kabupaten Kupang, Sikka, Flotim, Alor, Lembata dan Manggarai.

 

Pengolahan Perikanan

Perlakuan terhadap hasil produksi perikanan tangkap (ikan) di NTT sebagain besar langsung dipasarkan dalam kondisi segar. Sedangkan untuk bentuk pengolahannya, masih tergolong tgradisional yaitu hanya sebatas pengeringan/penggaraman dan pengasapan, bentuk pengolahan tersebut dilakukan diseluruh kabupaten. Pada tahun 2014, Kabupaten Alor memberikan kontribusi terbesar untuk hasil produksi ikan kering 1.827,59 ton dan ikan asap 374,62 ton.

Selain itu, pengolahan sumberdaya perikanan di NTT yang sudah mulai diminati saat ini adalah pengolahan garam, namun sebagian besar masih dilakukan secara tradisional yang memanfaatkan tambak. Lahan yang berpotensi dalam melakukan usaha tersebut hingga tahun 2014 seluas 10.492 hektar yang pemanfaatannya baru mencapai 862 hektar.

Adanya pengembangan klaster industry rumput laut menjadikan Provinsi NTT menjadi daerah pengembangan dan pengelolaan industry rumput laut berbasis minapolitan.

Prospek dan Peluang

Prospek usaha perikanan di NTT masih menjanjikan karena pasar lokal, domestic dan internasional (Asia, Amerika dan Eropa) masih sangat terbuka untuk NTT.   Sejak tahun 2010, Indonesia telah diterima sebagai salah satu Negara pengekspor ikan dunia. Ini berarti pangsa pasar hasil perikanan Indonesia semakin luas dan prospektif. NTT menghasilkan semua jenis ikan yang dibutuhkan pasar dunia. Namun komoditas yang paling dominan adalah tuna, cakalang, cumi-cumi, kakap, kerapu, rumput laut dan mutiara.

Dengan wilayah laut yang masih luas dan air laut yang relative masih bersih, serta keragaman komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi, NTT memiliki peluang usaha perikanan yang beragam pula. Ini menjadi daya tarik bagi investor.

Peluang usaha perikanan yang dapat dikembangkan antara lain usaha penangkapan, budidaya laut, budidaya pesisir, industry pengolahan hasil perikanan dan penyediaan jasa aktifitas perikanan.

Tingkat pemanfaatan potensi perikanan tangkap pada tahun 2014 hanya mencapai 108.803 ton (belum mencapai 50 %) dari potensi produksi perikanan NTT yang mencapai 388.600 ton/tahun. Hasil tangkapan ikan di NTT tahun 2014 yakni ikan pelagis (52.180 ton), ikan demersal (27.418,4 ton).

Sementara udang, potensi lestari mencapai 6.000 ton/tahun dan tangkapan yang diperbolehkan mencapai 4.000 ton/tahun. Sementara itu, total produksi cumi-cumi tahun 2014 mencapai 800,60 ton atau 57,10 % dari tangkapan yang diperbolehkan. Usaha penangkapan udang dan cumi-cumi menjadi peluang yang menjanjikan.

Industry Perikanan dan Pengolahan

Perkembangan kegiatan usaha perikanan yang semakin maju perlu didukung oleh industry yang lengkap pula. Pada usaha penangkapan di NTT, sebagian besar keperluan sarana penangkapan masih dipenuhi dari luar daerah, hanya ada beberapa industry perahu rakyat dalam skala kecil. Industri penanganan pasca panen umumnya diadakan oleh perusahaan penangkapan itu sendiri, seperti pabrik es dan ruang pendingin (cold storage). Belum ada prasarana yang difungsikan untuk pemakaian bersama, seperti perikanan terpadu yang menyediakan jasa dan pengadaan prasarana.

Peluang usaha produksi ini masih terbuka terutama di Kota Kupang, Kabupaten Sikka (Maumere), Flores Timur, Sumba Timur dan beberapa kabupaten lain. Karena hasil perikanan merupakan produk yang mudah rusak maka diperlukan penanganan secara cepat dan tepat karena akan berpengaruh pada harga jual produk. Ini memberikan peluang untuk perkembangan pengolahan hasil perikanan.

Pengolahan

Peluang usaha pengolahan produk perikanan cukup potensial karena bahan baku berupa berbagai jenis ikan cukup banyak dengan harga yang relative murah. Usaha ini dapat dilaksanakan dalam skala rumah tangga atau skala industry kecil.

Jumlah unit pengolahan ikan hingga tahun 2015 baru mencapai 356 unit yang tertinggi oleh jenis penggaraman/pengeringan yaitu 200 unit usaha. Sedangkan untuk pemindangan, fermentasi dan perekdusian sama sekali belum terlihat keberadaannya. Ini merupakan peluang bagi investor yang tertarik dalam mengembangkan usaha tersebut.

Selain produk-produk perikanan siap saji/masak, usaha pengolahan lainnya yang cukup menjanjikan adalah usaha/industry tepung ikan. Sampai saat ini Indonesia masih membutuhkan tepung ikan dalam jumlah besar. Kebutuhan besar terhadap tepung ikan sampai saat ini belum dapat dipenuhi oleh industry dalam negeri, sehingga tepung ikan masih diimpor.

Hal ini kontradiktif karena sumber daya alam perairan sangat berlimpah. Saat ini industry tepung ikan yang akan beroperasi pada Kabupaten Flores Timur dengan produksi 10 ton/hari dan Kabupaten Lembata 7 ton/hari. Dalam memasuki era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) 2016 maka perlu dilakukan peningkatan dan pembinaan sumber daya manusia dalam teknologi pengolahan hasil perikanan yang berdaya saing. (DKP NTT/ian)